what’s your soul sings?

manusia di klaim sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna, kenapa? apa indikator dari sempurna dari posisi sebagai suatu “mahluk Tuhan” dan apakah arti eksistensi dari manusia sebenarnya dan makna dari kehidupan yang selama ini kita jalani?

permasalahan di atas merupakan pemikiran fundamental yang sebenarnya jarang di singgung atau bahkan terbersit di pikiran manusia pada umumnya. Namun bukan berarti pemikiran ini tidak ada atau tidak boleh kita bahas. bayangkan betapa hambar kehidupan dikala kita tidak mengetahui arti eksistensi kita, makna dari setiap nafas yang Tuhan berikan kepada kita, makna dari setiap detak jantung yang Tuhan berikan kepada kita dan bahkan kehidupan sosial yang Tuhan percayakan kepada kita…

Keberadaan Manusia bukanya tanpa alasan

manusia dilahirkan sebagai mahluk yang solitaire atau dalam artian tunggal dan hidup berdampingan dan “terpaksa” menjadi mahluk sosial yang dikarenakan kekuranganya mewajibkan mereka untuk saling berhubungan, saling membutuhkan, saling ketergantungan, saling memanfaatkan, bahkan saling melengkapi..keberadaan mereka satu sama lain terkonsep secara bias dalam alur kehidupan dan waktu. pola ini terus berulang milyaran kali dan terdistorsi seiring dengan perkembangan kebutuhan manusia yang di tunjang dengan instrumen ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

hubungan timbal balik ini menyebabkan adanya peradaban, peradaban sendiri menghasilkan norma dan menjadi bagian dari budaya sehingga dalam prosesnya terjadi pergesekan luar biasa antar tiap individu yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang di kompori oleh ambisi dan nafsu akan duniawi serta ragawi..

Tuhan yang muak akan prahara di Bumi menurunkan nabi dan Rassul dengan tujuan membawa firman dan peraturan yang dimaksudkan memberikan sebuah aturan hidup dan jalan selamat serta pedoman dan dasar dalam berperilaku baik sebagai individu maupun berperilaku sebagai seorang yang terjun ke dalam satu lingkup sosial. walaupun tidak bisa di pungkiri beberapa agama muncul dari kepercayaan dan kebutuhan manusia akan sesuatu yang Agung, ataupun muncul karena kebudayaan yang mengakar hebat pada suatu kelompok masyarakat.

namun pertanyaanya adalah : berperan sebagai apa agama itu?

agama adalah sebuah pedoman yang di tujukans sebagai penyaring diri manusia terhadap sifat dasar manusia, instink hewani yang terdalam yang terdapat pada setiap diri manusia.

seiring zaman, fondasi agama di tiap manusia mulai terkikis dan agama yang seharusnya menjadi penyelesai masalah, bahkan tidak bisa menyelesaikan permasalahan hidup, karena agama hanyalah faktor eksternal terhadap diri manusia, seperti halnya logika yang berbasis pada pengetahuan empirikal.

kematian agama

Friedrich Nietzsche pernah mengutarakan pikiranya akan “Kematian Tuhan”, yang mungkin akan ditanggapi dingin oleh kaum religious garis keras. namun pernyataan ini bukanlah sebuah klaim dari seorang yang sekuler, namun dari sisi logika akan tergantinya posisi Tuhan sebagai apa yang di “puja” oleh manusia di zaman modern ini..sebagai bias dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, instink manusia secara sadar maupun tidak sadar-mungkin dalam upayanya mencari eksistensi Sang Maha Kuasa atau bahkan sebuah perjalanan dalam pembuktian Bahwa alam ini hanyalah sebuah kebetulan yang luar biasa-mencari cara untuk melogikakan agama dan filsafat akan Tuhan dan Ilahi, yang sebenarnya tidak akan tercapai oleh kemampuan manusia. Hal ini menyebabkan timbulnya sikap apatisme terhadap keagamaan dan timbulnya era sekulerisme yang memisahkan cara berpikir duniawi dengan pemikiran Ilahi.

Namun, sebenarnya perang terhadap eksistensi agama lebih substansial dari itu. pernyataan “Tuhan Telah Mati” adalah sebuah gambaran telak akan sikap manusia yang lebih “mendewakan” dunia, uang, kekuasaan, nafsu ragawi, dan nafsu duniawi yang didasari oleh instink dasar manusia. motivasi akan suatu pencapaian sudah tergeser, dan adanya motif kepentingan serta timbal balik menjadi apa yang kita sebut sebagai hukum rimba.

manusia sebagai mahluk paling sempurna

melihat konflik diatas, adanya agama sebagai tembok pengahalang antara instik dasar manusia dengan alam nyata memberi kita sebuah gambaran tentang polemik gelar manusia sebagai mhluk tuhan yang paling sempurna, jadi apa makna “sempurna”?

jika kita sedikit menelaah dari sisi harfiah pada kalimat “Mahluk Tuhan yang paling sempurna” perlu kita garis bawahi bahwa kesempurnaan yang kita miliki sebagai manusia adalah para porsi “mahluk Tuhan” yang bisa kita artikan sebagai ciptaan, karya atau apapun itu..namun ada batasan konsep sempurna dimana sempurna yang selama ini kita deskripsikan sebagai kesempurnaan dalam sisi fisik, adalah makna lain yang sedikit kurang mendapat perhatian bahwa kesempurnaan manusia adalah karena “ketidak sempurnaan yang sempurna” yang di miliki manusia pada porsinya sebagai pemimpin di bumi ini.

jadi, makna sempurna disini adalah bukan yang paling baik, atau yang paling buruk..jika kita sedikit bandingkan dengan 2 mahluk Tuhan lainya, misalkan malaikat dengan Iblis. Malaikat sebagai mahluk yang patuh dan hidup tanpa diberikan hawa nafsu, walaupun mereka penghuni surga, namun mereka tidak lebih sempurna dimata Tuhan di banding manusia. kenapa? dan Iblis yang memiliki nafsu namun terlahir sebagai kaum pembangkan dan mendapat segala celaan dari Ilahi, kenapa? …

karena manusia diciptakan dengan adanya nafsu dan akal, nurani dan pikiran, dimana malaikat tidak..

namun apa makna dari pemberian nafsu ini kepada manusia.?

manusia, dalam keseharianya terdapat 2 komponen utama yakni Logika yang menelurkan akal baik di sisi positif maupun negatif, dan hati yang mengeluarkan emosi baik di sisi positif dan negatif, dan distorsi antara hati dan logika menghasilkan sebuah jalur baru yang di sebut ego..ego memiliki sebuah jalur paling berpengaruh karena dia adalah jalur yang searah dengan jiwa, dimana jiwa masing-masing orang tidaklah sama. walaupun manusia terlahir dengan roh yang suci namun manusia juga terlahir dengan membawa instink ragawi dan duniawi, dimana dalam proses nya penyaluran jiwa ini harus melampaui 3 jalur yang telah di jelaskan di atas.

Logika

logika dan pikiran, adalah jalur yang terbentuk dari buah pemberian Tuhan yakni akal yang terstimulasi oleh pengalaman empirik dan norma yang terbentuk secara struktural dan bersifat solid, contoh : api adalah panas, api pastilah panas dan ini adalah panduan yang secara solid terbentuk akibat dari pengalaman diri sendiri atau orang lain, dan tercatat secara alami di benak tiap manusia. logika sendiri memiliki 2 sisi, yakni prespektif positif dan negatif, jika kita contohkan dengan kasus api seperti yang di atas maka akan terbentuk seperti di bawah ini

perspektif positif : api, panas, untuk memasak

perspektif negatif : api, panas, untuk mencelakai orang lain

hati

adalah tempat terbentuknya nurani yang merupakan anugrah terdalam dari yang Maha Kuasa. beberapa pandangan menjelaskan hati adalah Tuhan, Suara hati adalah suara tuhan. manusia sebagai mahluk yang sempurna diberikan nurani oleh Tuhan yang Maha Esa untuk bisa merasakan simpati dan empati yang melahirkan perasaan dan emosional. sama halnya hati pun mempunyai dua sisi yakni positif dan negatif.

perspektif positif : empaty, simpaty, adanya perasaan sayang, rindu dan lainya

perspektif negatif : antipati, amarah, kekecawaan dan lainya.

Ego

beberapa orang menyebut ego adalah jiwa, yang menurut saya tidak sepenuhnya salah, karena menurut pandangan saya ego adalah jalur yang terbesar dari setiap manusia akan penyaluran jiwa.namun ego sendiri terbentuk akibat adanya gesekan antara logika dan hati.

kita lihat sebuah ilustrasi akan mekanisme dari 3 komponen tersebut :

ibaratkan ada seorang manusia, berjenis kelamin laki-laki, yang bertemu dengan seorang wanita di suatu hutan belantara

sisi alamiah seorang laki-laki-kita paksakan saja untuk masuk ke sisi orientasi- dimana adan ketertarikan seksual kepada lawan jenis akan terjalur ke dalam 3 komponen tadi

Logika : andaikan seorang ini adalah yang terpelajar dan hidup di lingkungan bermoral, taat hukum dan lainya menyebabkan logika dia memberikan respon akan dampai baik buruk menurut norma tentang instink alaminya kepada wanita tersebut.

Hati : sebagai manusia yang memiliki nurani, sisi “surga” yang dimilikinya menentang untuk melakukan tindakan asusila, namun bukan karena adanya batasan akan agama dan norma, namun karena sisi batin dari dalam diri yang disebut nurani memiliki sebuah empati terhadap sesama yang melarangnya untuk melakukan tindakan yang berlawanan dengan nuraninya.

Ego: jiwa manusia yang asli yang berisikan instink dasar akan orientasi terhadap lawan jenis mendorong pria tersebut untuk melakukan gerakan untuk mendapatkan apapun untuk memuaskan insting alami nya

hasilnya : hasil dari 3 komponen penyaringan ini menyebabkan perwujudan secara fisik dan nyata dari jiwa pria tersebut, karena adanya logika yang terkontaminasi norma dan agama, dan hati nurani yang menyaring dari sisi emosional, namun terdorong akan kebutuhan alami sebagai seorang pria, akhirnya pria tersebut hanya berkenalan dengan wanita tersebut dan memperlakukanya dengan hormat,

bayangkan kasus serupa dengan perbedaan porsi logika dan hati serta kejiwaan orang tersebut, maka setiap orang akan berbeda walaupun ada kecenderungan adanya mainstream idea atau pemikiran umum, namun porsi setiap akan berbeda bergantung pada pengalaman pribadi, pendidikan akan norma agama serta pengetahuan lainya.

Kemampuan untuk memilih

jadi bisa di simpulkan bahwa makna utama dari sisi kesempurnaan manusia sebagai mahluk Tuhan adalah kemampuan manusia untuk memilih. dan pemilihan jalan ini semua berakar pada jiwa masing – masing

seseorang bisa jadi memiliki jiwa seorang pemberontak yang akan menghasilkan dirinya sebagai pemberontak segala norma yang telah ia dapat dan terbentuk dalam logikanya atau mungkin mengesampingkan nuraninya hanya untuk melampiaskan instink liarnya.

namun tentunya suplemen terhadap logika berupa pengetahuan positif yang terus berkesinambungan serta nurani yang terolah dengan cara lebih sering mendengarkan kata hati dibanding ego yang merupakan cermin kotor dari jiwa kita merupakan salah satu cara yang baik dalam mengontrol diri sendiri.

walaupun tidak bsa dipungkiri bahwa orang yang memiliki pengetahuan yang luas akan lebih baik dari yang berpengetahuan sedang, karena kembali adalah jiwa kita masing-masing yang memilih mau memakai jalur yang mana? logika positif atau negatif? mendengarkan hati atau nafsu, dan itu kembali ke diri kita masing masing

apa yang sebenarnya jiwa kamu utarakan

dan akhir dari sesi ini mari kita merenung akan eksistensi kita sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna, mari kita bercermin dan menilai jiwa kita yang sebenarnya, namun apapun bentuk dan warna jiwa kita, Tuhan sudah memberikan Logika, Akal sebagai penyaring dan Nurani sebagai dasar, dan jadikan ini sebagai Anugrah terindah yang Tuhan Berikan kepada Mahluk yang Paling Dia anggap sempurna, maka sempurnakanlah diri kita dalam ketidak sempurnaan.

karna sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s