Alone with everybody

man as a solitary

bayangkan sebagai manusia adalah sebagai mahluk sosial yang tidak bisa lepas dengan mahluk lain… betapa penuh warna nya kehidupan seseorang karena lazimnya sebagai mahluk sosial, mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain, menjalankan peran, saling berbagi, belajar, berjuang di kehidupan bersama, mungkin dengan mereka yang disebut teman atau apalah itu…

tapi.. entah sadar atau tidak, seberapapun tingkat “sosial” mereka, atau tingkat ketergantungan mereka dengan lingkungan-yang mungkin dalam kasus ini adalah manusia lainya- mereka tetaplah seorang individu yang sendiri, berjalan sendiri diantara manusia lain yang tentunya menjalani kehidupan dengan tujuan mereka masing – masing…

lalu apa yang terjadi saat kita kembali ke fitrah kita sebagai mahluk yang sendiri? tidakah kita meresa sesuatu yang berbeda?

manusia dalam menjalani kehidupanya, peranya, bergantung pada “persona” yang mereka buat untuk membantu diri mereka maksimal dalam berperan di suatu lingkungan, semakin banyak kita bergaul dan masuk ke dalam lingkungan yang berbeda, semakin tinggi kemampuan sosialitas kita, namun tanpa disadari semakin dalam juga kita tenggelamkan diri kita yang sebenarnya…secara tidak sadar kita kehilangan diri kita dalam seuatu peran dan harapan yang merupakan perwujudan dari adaptasi kita dengan suatu lingkungan…membentuk alam bawah sadar kita dengan hasrat dan emosi yang tentunya juga ikut teradaptasi..dengan kata lain, sebagian dari hasrat dan keinginan, bahkan emosi, prestige maupun rasa takut dan gundah, adalah buatan dan hasil dari “topeng” yang selama ini asik kita pakai..

lalu kemana diri kita yang sebenarnya?

diri kita tidak pernah hilang, hanya saja kita tertutup oleh banyaknya persona yang telah kita pakai dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan penuh dengan berbagai situasi yang mengharuskan kita memakai “topeng” atau persona untuk memudahkan kita menjalani peran tersebut. persona yang kita buat, atau bisa kita pakai topeng yang kita buat bukanlah suatu hal yang bukan diri kita, tapi bukan merupakan diri kita yang asli, itu adalah bagian dari distorsi baik negatif ataupun positif. sayangnya, topeng itu menjadi terlalu kuat menyatu dalam diri kita sehingga seakan itu adalah diri kita…hingga suatu titik, kita membenci kesendirian, kita meresa ketidak nyamanan dalam kesendirian, kita ingin berada di lingkungan sosial yang mendukung keberadaan diri kita atau sebenarnya adalah keberadaan “persona” kita yang terlalu melekat di dalam alam bawah sadar kita, berbeda kasus saat terdapat seseorang yang merasa tidak nyaman berada di dekat orang lain, karena dia tidak bisa membentuk kepribadian yang diinginkan lingkungan sosial tersebut sehingga yang terjadi adalah pengasingan baik secara halus maupun kasar dari komunitas tersebut, ketidak sanggupan dirinya untuk membuat sebuah persona yang diinginkan atau diharapkan oleh suatu komunitas baik karena idealisme atau apapun itu, secara tidak sadar membentuk sebuah persona yang kuat untuk semakin dijauhkan oleh manusia lain, charm dari orang tersebut menurun seiring dengan berkurangnya intensitas dalam bersosialisasi maupun berinteraksi dengan orang…

saya tidak akan jauh lebih dalam untuk membahas orang ini, yang akan saya bahas adalah orang – orang yang merasa keepian di tengah kerumunan orang … atau secara mereka tidak sadari..walaupun harus saya klarifikasi bahwa tidak semua individu akan merasakan atau menyadari hal seperti ini karena kembali kita mengakui manusia dengan segala kompleksitas yang merupakas salah satu hadiah dari Tuhan sebagai mahluk paling sempurna di jagad raya ini.

Adapt or perish

persona, seperti yang sudah saya jabarkan, merupakan salah satu “topeng” manusia dalam menjalankan peranya di berbagai lingkungan dengan segala klasifikasi dan tuntutan yang diharapkan dalam lingkungan tersebut. berawal dari keberanian seorang korelis dalam menembus zona nyaman dia, usaha yang berat bagi seorang plagmatis dalam keluar dari zona nyaman dia, dengan pernuh pertimbangan seorang melancholy melihat keluar zona nyaman dia, dan sedikit sekali sanguinis bisa keluar dari zona nyamanya..yah, sebuah persona lahir saat manusia mencoba keluar dari zona nyaman dia, dan disaat itulah, “lingkaran” pengetahuan, wawasan, akan bergerak meluas dan mempengaruhi sikap, perilaku dan kepribadian seseorang. singkat kata, semakin sering orang tersebut keluar dari zona nyaman, maka nilai diri dia akan meningkat-tentunya ada nilai positif dan negatif, ya tentu nilai negatif pun bisa meningkat namun saya tidak akan membahas nilai tersebut lebih mendalam.

untuk memperjelas mari kita melihat satu kasus yang benar-benar terjadi dan dialami oleh rekan saya..

rekan kuliah saya dulu, sebut saja bernama putra. adalah seorang mahasiswa yang malas, hidup tanpa memikirkan masa depan, santai apa lagi menjaga image dia. sibuk mecari kegiatan yang bersifat fun dan cenderung mengabaikan kuliah, walaupun saya tau bahwa dia adalah anak yang cerdas dan pandai. hingga suatu saat saya bersama sahabat saya itu bergabung dengan organisasi mahasiswa jurusan kami. 2 tahun berlalu, tidak ada perkembangan yang signifikan, rapat keanggotaan dia tidak hadiri, musyawarah kerja dia abaikan, dan sering menggunakan dispensasi himpunan untuk keluar kelas. hingga pada saat pemilihan ketua, dimana calonya adalah angkatan kami, terjadi suatu perubahan besar dalam dirinya. singkat cerita, terbujuklah dia untuk mencalonkan, dan terpilihlah dia menjadi ketua himpunan kami. dan apa yang terjadi? perubahan yang besar dimana dia berhasil keluar dari zona nyaman dia dan membentuk persona dia dengan secara dia tidak sadari, mengubah dia yang semula seorang mahasiswa yang santai, menjadi seorang pemimpin. sebagai teman baik dia, terasa sekali adaptasi dia menjadi manusia baru, tentunya berkat kemampuan atau mungkin lebih pada kemauan dia untuk keluar dari zona nyaman, banyak soft skill yang terbentuk, sosok baru yang semakin dinamis, menghargai waktu lebih dari apapun, dan bahkan menjadi orang yang menghargai dirinya sendiri. dan satu tahun kepengurusan dalam himpunan, beliau sudah membuktikan keberhasilanya sebagai pemimpin.

dari cerita diatas, dapat digambarkan bahwa persona, terbentuk karena kemauan seseorang untuk keluar dari zona nyaman dia, sehingga dia berada dalam lingkungan yang baru, dengan standar baru, tuntutan yang baru serta tentunya spesifikasi yang baru, dimana dalam kasus teman saya, spesifikasi yang dimaksud salah satunya adalah punctuality yang merupakan salah satu syarat pemimpin yang harus menghargai waktu.

persona bukanlah sebuah sikap, sifat, atau kepribadian. tapi mereka adalah bagian dari itu. persona berbentuk topeng yang didalamnya memuat sikap, perilaku. sebagai manusia lazimnya memakai beberapa persona, semakin tinggi tingkat kedewasaan orang tersebut, semakin kokoh dia dalam merancang personanya baik secara sadar maupun tidak sadar, namun kasus menarik terjadi pada remaja atau usia-usai rawan diaman mereka sedang mencari jati diri, dimana nilai sosial, norma, prestige, maskulinitas, feminisme, sexualitas, gairah bercampur dalam ego dengan ketidak stabilan mental dan logika yang rapuh, membentuk distorsi persona yang cenderung menyenangkan, menegangkan, penuh tantangan serta pencapaian yang sebenarnya cukup fana. tentunya tidak semua orang mengalami ini di masa remajanya, latar belakang keluarga, penanaman nilai agama, wawasan serta pengetahuan sangat berpengaruh untuk perkembangan kedewasaan seseorang. tentunya, masing – masing manusia memiliki sisi dewasa sendiri. namun ada juga sebagian kecil yang memiliki mental berkembang yang begitu kecil, dengan keengganan dalam pergaulan dan terlalu takut meninggalkan zona nyaman yang mungkin diakibatkan oleh trauma atas suatu perilaku atau memang pada dasarnya dia bukan seorang yang pandai bergaul, memiliki persona yang tidak bervariatif, dengan minim pengalaman, nilai yang ia pegang sangat sedikit sehingga kemampuan untuk membandingkan suatu nilai dengan nilai lainya akan sangat rendah. orang dengan banyak variasi lingkungan, dengan beragam jenis sifat manusia, cenderung akan mendapat banyak nilai sosial dari tiap lingkungan yang ia singgahi, dan jika di disaring dengan bijak berdasarkan kekokohan jati diri dan prinsip yang ia pegang, serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan niat untuk memberi sesuatu yang positif untuk lingkungan tersebut, orang ini lah yang akan memiliki persona yang sempurna, dimana kestabilan mental terbentuk dengan sisi emosinal yang terkendali oleh logika.

jadi, pembentukan persona tidaklah se sederhana yang kita pikirkan, karena harus melalui perdepatan diri, pemikiran yang dalam-walau sebagian orang memilih tidak memikirkanya dan berjalan mengikuti arus-, pergeseran moral, gesekan nilai dan lainya, yang pada akhirnya, siapapun yang menang akan terpatri dalam bentuk topeng atau persona yang kita pakai. dan pergolakan ini terjadi dengan dan atau tanpa disadari oleh manusia.

man behind the mask

setelah mengetahui bagaimana pembentukan persona dan tentunya apa itu persona, lalu apa yang menjadi masalah?

adalah saat kita tidak menyadari persona tersebut dan kehilangan diri kita yang sebenarnya. disaat kita lupa wajah kita yang sesungguhnya, disaat kita lupa bahwa topeng yang kita pakai adalah cerminan duniawi dari apa yang menjadi tujuan kita, tapi kita lupa seperti apa muka kita? baik positif, maupun negatif, wajah yang diberikan Yang Maha Kuasa adalah tetap wajah kita yang sebenarnya, dan harus kita sadari itu karena, wajah itulah yang secara tidak kita sadari ataupun dengan sadar kita tunjukan kepada rekan hidup kita. manusia lain yang mendampingi kita tiap hari, baik siang maupun malam, dan dialah orang yang paling kita cintai, dan banyak yang tidak menyadari bahwa, topeng yang mereka pakai begitu indah, namun wajah yang ada di balik topeng tersebut begitu busuk dan hal ini hanya di rasakan oleh orang yang paling dekat berada di samping kita.

ironis sekali bahwa dengan indahnya kita melayani orang lain, namun kepada orang yang paling dekat dengan kita, satu orang tersebut kita memperlihatkan wajah kita yang sesungguhnya…

mungkin saya terlalu mendramatisir dalam menjabarkan fenomena diatas, sebenarnya tidaklah sejahat itu..

mari sedikit kita melunakan pernyataan -pernyataan saya yang diatas dan mengklarifikasinya sehingga dapat diterima dengan baik..

banyak kasus yang menjelaskan tentang betapa hebatnya seseorang dimata orang lain, entah itu tentangganya, anak buahnya, koleganya, atasanya, muridnya, mahasiswanya atau apalah itu. namun begitu buruk dimata istri atau suaminya..

akui itu, ini adalah kenyataan..dan bukanya ingin melenceng dari topik awal, salah satu dampak dari persona adalah hilangnya kesadaran diri kita yang asli, terbuai akan feedback dari lingkungan, namun tidak sadar akan tajamnya diri di rumah sendiri.. sebagai manusia kita memang harus bermanfaat bagi lingkungan, tapi untuk apa jika rumah yang menjadi tempat peraduan kita dan rekan hidup kita menjadi tempat yang asing? padahal yang terlebih dahulu kita harus mulyakan adalah rumah kita, dan bukan hanya sebuah bangunan yang memiliki beberapa kamar, dapur dan kamar mandi, namun “rumah” kita yang sebenarnya. dan tidak kita sadari, saat kita “pulang” kita membuka semua topeng kita, dan tanpa menyikapi “wajah” kita yang sebenarnya dengan bijak. kita hanya menjadi seorang aktor yang handal dalam menjalankan peran tanpa bisa mengamalkan inti dari semua hari yang telah kita lewati dalam hidup kita…

someone inside the looking glass

jadi siapa orang yang ada di dalam cermin tersebut?

disaat persona yang kita buat begitu kuat dan menguasai sebagian besar wajah kita, tanpa kita sadari kita mulai kehilangan raut wajah kita yang sebenarnya, disaat tiap lekukan yang terbentuk di “topeng” yang kita pakai dan kita pertunjukan kepada dunia? tidak masalah selagi topeng yang kita pakai digunakan dengan bijak, tapi kembali saya ingatkan bahwa manusia tersusun oleh segala komplesitas yang begitu rapih dan halus, dan hubungan yang unik antara hati dan logika (otak) yang masing-masing menghasilkan emosi yang unik dan dependen terhadap penghasilnya namun begitu cair sehingga mudah sekali untuk terkontaminasi oleh berbagai “virus” otak dan mental, dimana hasil dari pergulatan itu kan menjadi tindakan, sikap atau perilaku yang kita wujudkan secara fisik.

The triangle

berlanjut dari pembahasan di atas, manusia adalah hasil dari pergolakan hati dan logika, kebanyakan orang menilai emosi merupakan buah dari hati seseorang, sedangkan logika membentuk sesuatu yang bersifat unemotional. mereka salah, baik hati maupun logika menghasilkan sesuatu yang bersifat acak namun penuh dengan emosi, baik itu bersifat membangun maupun yang menjatuhkan, baik yang bersifat menenangkan maupun yang membuat kegelisahan, baik itu bersifat mambara ataupun yang sifatnya begitu tenang. apapun itu, mereka bersinergi menghasilkan sebuah perintah, uniknya, perintah yang dikeluarkan ini ada yang berasal dari alam sadar manusia tersebut atau alam bawah sadar, dan perintah baik dari hati ataupun otak, ada yang sejalan namun ada juga yang bertentangan. unik sekali, dan pergolakan ini bisa berbentuk halus sehingga manusia yang mengalaminya tidak dapat merasakan “perang” tersebut, dan ada juga yang begitu frontal sehingga manusia tersebut merasakan sensai pergolakan dalam dirinya tergantung dari konsep dan besar kecilnya arti sesuatu ini bagi manusia tersebut. pola pergerakanya pun acak, tidak hanya bersumber dari hati, namun otak pun bisa memberikan ide yang nantinya akan berkembang menjadi perbuatan. jangan kita anggap remeh hal tersebut, ide yang baik ataupun yang buruk hanya butuh sedikit dorongan agar menjadi sesuatu yang besar karena “gravitasi” dari hukum alam yang Ilahi terbukti adanya, dan semua hal besar yang terjadi di dunia ini adalah hasil dari ide manusia, baik itu ide yang bermanfaat bagi umat manusia sampai yang bersifat merugikan manusia.

jadi apa yang dilakukan hati ataupun otak dan bagaimana peranya untuk kehidupan kita.?

berawal dari ide yang muncul dari otak kita, entah karena reaksi karena menanggapi stimulus yang berupa inspirasi atau yang berupa ide asli atau genuine idea yang keluar dari pemikiran yang mendalam akan sesuatu-peran otak kanan begitu besar untuk kasus ini jika berhubungan dengan keindahan, sedangkan otak kiri yang bersifat rasional dan logika, tapi tidak menutup kemungkinan keduanya bersinergi dan menanggai stimulasi dengan baik-hal ini lah yamg menimbulkan stimulant yang bersifat emosional sehingga sang pemilik otak ini merasakan hasrat. gairah, ego, semangat, ketakutan, gelisah, resah, dan lainya, dan di sisi lain yang hati bekerja menyaring ide yang muncul tadi untuk menghasilkan stimulan lain yang berbentuk emosional juga, namun lebih bersinggungan dengan moralitas dan nilai dasar. penyaring yang kuat yang terbenruk berdasarkan pengethuan agama, stabilitas mental dan lainya.

contoh sederhana dari analogi diatas adalah

saat seorang laki-laki paruh baya sedang menunggu taxi untuk dia tumpangi di sebuah jalan yang sengat sunyi dan tidak ada orang lain selain dia dan seorang wanita cantik yang umurnya mungkin 10 tahun lebih muda darinya, berpenampilan sensual dan semua laki-laki waras akan tergoda dengan dia, tidak terkecuali laki-laki tadi, muncul sedikit ide gila dalam pikiranya untuk berkenalan, merayu nya atau bahkan menikmati fisik wanita tersebut tidak hanya sebatas khayalan, namun juga secara fisik. namun dikarenakan tingkat agama yang cukup kuat dan hati yang masih memiliki moral, pria tersebut langsung menahan ide liar tadi untuk terus berkembang menuju syaraf yang lebih lanjut sehingga ide tersebut tidak menjelma menjadi  perbuatan.

contoh di atas bisa dikembangkan dengan penambahan faktor ataupun stimulan, namun konsep dan kerangka pemikiranya tetap sama. namun intinya, saya ingin menjabarkan bahwa ide tersebut akan disaring dengan penyaring berbentuk moral, nilai agama dan lainya, tetapi otak juga tidak hanya memberi ide negatif, ide positif yang dicerna baik oleh pikiran dan di dukung oleh jati yang besar dan kuat membuat Wright bersaudara berhasil menciptakan pesawat terbang, Alva Eddison berhasil menciptakan bola lampu, james Watt berhasil menciptakan mesin up dan lainya..

sinergi antara hati dan  pikiran sangatlah menentukan keberhasilan dari ide setiap manusia.

The Distortion

lalu apa hubungan topik diatas dengan persona dan kepribadian manusia, persona adalah salah satu bentuk instrumen yan diciptakan oleh sinergitas dari hati dan pikiran. terbentuk dengan elegan tersusun berdasarkan pengetahuan dan etika, dengan dengan tujuan tertentu, secara sadar atau tidak sadar. namun dari keseluruhan kejadian, masing-masing persona akan membentuk sebuah distorsi yang pada umumnya tidak disadari oleh manusia. walaupun hal terebut tidak disadari, namun bukanya tidak bisa dipelajari, dan tentunya membutuhkan keterbukaan dan kebesaran hati untuk bisa mencapai level tersebut. biasanya distorsi yang terjadi berasal dari alam bawah sadar dan cenderung merupakan keinginan terdalam,

seorang laki-laki menyukai seorang wanita yang merupakan teman dekatnya, seiring waktu perasaan itu terus tumbuh tak terkendali dan mulai “mengganggu” kehidupan laki-laki tersebut. karena suatu alasan, laki-laki tersebut tidak bisa mengatakan perasaanya apalagi meminta balasan dari perempuan yang dipujanya secara rahasia. sampai akhirnya laki-laki ini menyerah dan berusaha untuk melupakan perempuan tersebut, secara fisik, keadaan yang disadari oleh laki-laki tersebut adalah bahwa dia sudah tidak mengharapkan perempuan itu lagi. namun apa yang terjadi justru sebaliknya, banyak perlakuan yang bersifat emosional dan penuh kasih kepada perempuan tersebut. hal inilah yang disebut distrosi, saat secara logika pria tersebut menolak perasaan itu, dan bahkan hatinya sudah terbiasa dengan “posisi” itu, namun terjadi distorsi yang menyebabkan pria tersebut memperlakukan wanita tersebut dengan penuh kasih.

distorsi sendiri bersifat fleksibel namun cenderung tidak bisa dikendalikan secara sadar, tetapi walau begitu distorsi dari seseorang dapat dilihat oleh pihak ke dua, atau orang lain yang tentunya dekat dengan kita. pada kasus rumah tangga, distorsi sang suami lazimnya diketahui sang istri bagitupun sebaliknya.

semua manusia mengalami distorsi dan ini tidak bisa dihindarkan, hanya orang-orang piihan Tuhan yang mempu mengendalikan keseluruhan alam sadar dan bawah sadar miliknya sehingga ia bisa bijak dalam bersikap. contoh pengendalian tertinggi seperti Nabi Muhammad.

genuine face

sekarang sudah jelas bahwa manusia dengan kesendirianya terjadi beberapa proses psikologis yang menghasilkan persona yang merupakan topeng maya yang muncul karena kebutuhan diri akan eksistensi terhadap suatu lingkungan atau beberapa lingkunga, namun kembali bahwa pada dasarnya manusia memiliki wajah asli mereka yang tidak bisa mereka tutupi atau hilangkan, dan persona adalah topeng yang hanya bisa dipakai pada lingkunga-lingkungan tertentu, sedangkan pada lingkungan yang bersifat pribadi, wajah asli manusia tersebut cenderung polos terlihat tanpa polesan apapun.

The Actors

manusia adalah aktor dari panggung yang disebut dunia, dengan Tuhan sebagai arsitek dan sutradaranya. manusia memang dituntut untuk menjalankan berbagai peran yang masing-masing peran berhubungan secara langsung maupun tidak langsung kepada manusia lain, setiap lingkungan menuntut peranan tertentu lengkap dengan spesifikasi dan deskripsi peranan tersebut dan tentunya berkembang seiring waktu. manusia untuk bisa mempertahankan eksistensinya dan motivasi akan pemenuhan kebutuhan dan kekuasaan membutuhkan suatu instrumen psikologis berbentuk topeng kepribadian yang disebut persona. persona sendiri tersusun dari berbagai pengetahuan, pengalaman, nilai dan moral baik itu dari masyarakat atau agama. persona juga merupakan improvisasi dari kepribadian asli dari seseorang walaupun juga ada yang bersifat artificial atau buatan. penggunaan persona didasari dari singkronisasi antara otak dan pikiran yang memang memancarkan perintah kepada manusia. dalam keseharianya manusia menggunakan otak dan pikiran, terjadi distrosi yang tidak disadari oleh mereka, dan beberapa distorsi tersebut ada yang bisa dilihat oleh orang terdekat maupun tidak. dan sehebat apapun manusia memakai persona, sebanyak apapun persona yang ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetaplah sebuah “topeng” dan di lingkunga yang bersifat pribadi dan sentimentil, wajah asli dari orang tersebut akan keluar baik itu bersifat positif atau nagatif.

kembali saya tekankan bahwa manusia adalah mahluk dengan segala kompleksitasnya, they are perfectly imperfect sebagai mahluk paling sempurna, manusia adalah mahluk dengan 2 sisi yakni baik dan buruk, tidak ada manusia yang seluruhnya buruk ataupun sebaliknya, semuanya terpartisi dengan rumitnya dan pengetahuan, moral, dan nilai agama adalah pembatas dari 2 sisi tersebut. namun sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain, jelankan peran yang telah Tuhan berikan dengan bijak, berbuatlah untuk melayani kebaikan dan menjadi hamba kebajikan. mudah – mudahan Tuhan memberikan petunjuknya sehingga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat, minimalnya untuk diri kita sendiri dahulu, setalah itu, sungai kebaikan akan membawa peran kita menuju tingkat yang lebih tinggi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s